Sekarang, Anda mungkin sudah mampu meraba, mengapa pada poin ini saya ingin berbicara tentang orang-orang yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup dengan cara melakukan bunuh diri. Anda akan menyadari bahwa bunuh diri itu merupakan cara dari orang-orang yang merasa gagal dalam hidupnya, sehingga mereka tidak menemukan jalan lain kecuali mengakhiri jalan hidupnya sendiri.
Bayangkan ada orang yang merasa gagal dalam berbagai hal. Istrinya selingkuh, anak-anaknya nakal, pekerjaan tidak ada, sedangkan tuntutan kebutuhan semakin menjadi-jadi. Apa yang paling enak dilakukan dari orang yang demikian ini? Tiada yang lain kecuali mati. Ya, entah dengan cara menjerat leher dengan sarung pada sebatang pohon, memotong urat nadi, atau meminum obat nyamuk. Mungkin anda pernah mendengar anak yang bunuh diri sebab ia sering diejek teman-temannya. Anda mungkin juga pernah membaca berita tentang seorang laki-laki yang membunuh istri dan anak-anaknya karena stress. Semua contoh ini menunjukkan adanya orang yang tidak sangup untuk melawan tututan hidup, mencari jalan pintas, memerdekakan jiwanya dari berbagai tuntutan, dan berakhir dengan cara membunuh atau bunuh diri.
Dalam pandangan Islam, bunuh diri itu merupakan dosa besar, apa pun alasan bunuh diri tersebut dan bagaimanapun modus operandinya. Bunuh diri merupakan cara membunuh yang tidak benar, terhadap subjek yang tidak benar pula. Pertanyaannya, mengapa bunuh diri itu dosa (diharamkan)?
Cobalah pelajari orang yang bermaksud bunuh diri, atau lihalah sebab-sebab orang yang bunuh diri. Semua sebab yang dilakukan untuk bunuh diri menunjukkan kegagalan, kekalahan, dan kebangkrutan orang yang bunuh diri itu sendiri. Ia tidak sanggup untuk menghadapi berbagai tuntutan hidup. Ia merasa sering gagal dalam hidup. Ia merasa dijahui dari semua orang di dunia ini. Ia merasa tidak ada jalan lain untuk mencapai apa yang diharapkan dan apa yang diinginkan. Ia menjadi sedih, kecewa, dan putuh asa. Semakin berganti hari, rasa sedih, kecewa, dan putus asa itu semakin besar. Pikirannya mulai kacau. Akal sehatnya menjadi lenyap. Hawa nafsunya terus membisiki. Hawa nafsu tersebut seakan berkata-kata, ”kamu ingin bebas dari semua ini? Kamu ingin merdeka dari beban-beban hidup yang membelenggumu? Dan kamu ingin terus melihat kegagalan, kekalahan, dan kebagkrutan hidupnya? Bunuh diri saja! Bunuhlah dirimu. Bebaskan jiwamu dari semua masalah, dari semua tekanan. Bebaslah. Bunuhlah dirimu sendiri…!”
Al-Qur’an memberikan stigma orang-orang yang demikian itu sebagai orang yang merugi:
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (QS Al-Maidah [5]:30)
Dan juga firmannya:
Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (QS Al-An’aam [6]: 140)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka gembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah [9]: 111)
Sering terjadi bahwa ketika seorang sudah sampai pada keputusan yang tinggi, kesedihan, dan kekecewaan, maka jiwanya dikuasai oleh nafsu yang disebut kenekatan untuk segera mengakhiri hidupnya sendiri. Kalau toh kemudian ia merasa takut bunuh diri, orang yang demikian ini tidak segan-segan membunuh seseorang yang dianggapnya sebagai beban atau penghalang dirinya. Seperti inilah penjelasan yang bisa kita simpulkan dan orang yang melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain dengan batil. Agama mengatakan bahwa orang-orang yang demikian ini adalah orang yang merugi, yakni rugi di negeri akhirat.
Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa bunuh diri merupakan jalan untuk meringankan beban hidup yang yang ditinggalkan. Anggapan seperti ini tidak betul. Justru ketika Anda melakukan bunuh diri, berarti Anda semakin meninggalkan-dan meninggalkan untuk selama-lamanya tanggung jawab Anda kepada keluarga Anda, jika Anda telah berkeluarga. Setidak-tidaknya, jika Anda tidak melakukan bunuh diri, Anda masih memiliki kesempatan untuk memecahkan beban yang anda pikul, betapapun berat dan susahnya.
Bunuh diri menjadi perbuatan yang diharamkan, atau menjadi perbuatan dosa karena tindakan ini bertentangan dengan banyak hal. Yang paling besar adalah ia bertentangan dengan kewajiban untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT, yakni nikmat berupa hidup. Jangankan agama, deklarasi universal manusia sendiri menyatakan bahwa hidup merupakan hak; atau, salah satu hak mendasar yang dimiliki manusia adalah hak untuk hidup. Membunuh berarti melanggar hak. Membunuh dirinya sendiri berarti juga demikian.
Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, tak ada kesulitan yang sesungguhnya tidak bisa dipecahkan. Tak ada beban yang tidak bisa dipikul. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Ketika Anda merasa tidak sanggup memikul beban, tanggung jawab, atau kesulitan, sebenarnya Anda membutuhkan sedikit lagi kecerdasan untuk mencari kemudahan di balik kesulitan, beban dan tanggung jawab tersebut.
Tetapi, nafsu sudah menguasai Anda. Nafsu membuat hati dan akal Anda gelap gulita. Anda sudah menyerah terlebih dahulu. Ketika sebenarnya Anda tengah membutuhkan semangat, justru Anda menarik diri dari kebutuhan itu dan membuat diri Anda sendiri putus asa. Sedikit lagi Anda sesungguhnya akan mencapai harapan Anda, tetapi Anda sudah kadung menarik diri menjadi orang yang kecewa.
Kekecewaan dan keputusaasaan Anda akan semakin menjadi-jadi manakala Anda memikirkan tentang mati. Anda merasa tidak mati-mati, sedangkan beban Anda semakin berat saja. Anda tidak kuat dan tidak sanggup menerima bayangan-bayangan yang mengerikan dan menakutkan terhadap nasib masa depan Anda sendiri, nasib orang-orang yang Anda cintai. Pikirkan Anda semakin gelap. Hati anda kacau-balu. Jiwa Anda sudah dikendalikan Iblis. Pada saat itulah, dengan mudahnya Iblis berbisik dalam hati Anda, “Bunuh diri adalah jalan yang terbaik bagi hidupmu!”
Sampai di sini, menjadi jelas bahwa dihadapkan pada kemestian kematian yang sebenarnya dalam hubungannya dengan kehidupan, sebagian besar orang terbagi menjadi dua, yakni:
• Orang yang terus-menerus disibukkan untuk menumpuk-numpuk harta dan kekayaan dengan alasan agar nanti ketika mati, orang-orang yang dicintainya, keluarganya, atau orang-orang yang berada dalam tanggungannya tidak mengalami kemiskinan penderitaan. Termasuk orang yang demikian ini adalah orang-orang yang tergila-gila dengan kehormatan sehingga ketika ia telah mati, namanya selalu dikenang-kenang dan disebut-sebut.
• Orang yang menarik diri dengan berselimutkan kekecewaan dan keputusan yang menggila, sehingga ia mengambil langkah bunuh diri sebagai cara untuk terbebas dari belenggu kehidupan.
Jenis orang yang pertama maupun orang yang kedua adalah orang yang akan merugi. Mereka juga termasuk orang-orang yang gagal, bangkrut, dan kalah terhadap kehidupan dunia itu sendiri. Yang satu merasa bahwa ia harus berbuat yang terbaik bagi orang-orang yang ditingalkannya, sehingga ketika ia baru akan sampai ke liang kubur, ia masih sibuk dengan mengumpulkan harta dan kekayaan. Adapun yang satunya, ia telah menggali lubang kuburnya sendiri, mematikan hidupnya sendiri, tidak mensyukuri nikmat Allah, dan nafsu menjeratnya dalam keputusasaan dan kekecewaan yang menggunung. Pada tingkat manusiawi, kedua-duanya sama rusak. Dan pada tingkat ukhrawi, kedua-duanya akan masuk kedalam neraka.
sumber : Berani hidup siap mati's book
Jumat, 06 Mei 2011
Sabtu, 23 April 2011
KESEIMBANGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL
Manusia itu sangat giat dalam memperhatikan keseimbangan eksternal. Dia tidak tahan pada kondisi yang sangat panas, maka dia menyeasikannya dengan AC (Air Conditioner). Dia tidak tahan pada kondisi yang sangat dingin, maka dia menghangatkannya dengan perrapian. Dia tidak tahan dengan air panas, maka dia akan mencampurinya dengan air dingin. Dia tidak bisa melahap makanan tanpa garam, sehingga dia menambahkan garam secukupnya supaya sesuai dengan citra rasanya. Ini semua merupakan sebagian dari keseimbangan eksternal yang merupakan karunia Allah pada manusia.
Tapi yang mengherankan, sebagian besar manusia membuat dinding pemisah antara keseimbangan eksternal denagn keseimbangan intenal. Oleh karena itu, Anda tidak melihat mereka menaruh perhatian pada keseimbangan internal. Anda melihat bahwa mereka mengalami kekacauan internal, kontradiksi yang aneh antara perbuatan dengan perkataan, dan antara sebaguan perbuatan dengan sebagian lainnya, antara sebagian perkataan dengan sebagian laiinya.
Termasuk dalam kategori kontradiksi dan tidak adanya keseimbangan tersebut wadalah giatnya sebagian orang mengerjakan salat tepat pada waktunya, tapi masih enggan meninggalkan gibah (membicarakan keburukan) dan mencemarkan nama baik orang lain. Dan giatnya sebagian orang berdakwah di jalan Allah tapi tidak mau bangun untuk mengerjakan sholat subuh atau sholat asar.
Termasuk dalam kintradiksi itu juga adalah, ada sebagian orang yang gemar menyuruh orang lain supaya beramal baik tepi dia senndiri tidak mau mengerjakannya; sibuk memberi petuah dan nasihat kepada orang lain, tapi dirinya sendiri sangat alergi terhadap nasihat; memelihara jenggot dan memendekkan pakaian tapi disertai dengan masih adanya buruk sangka dan tidak konsisten pada suatu pendapat.
Semua ini merupakan sebagian indikasi hilangnya keseimbangan internal yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, karena perhatian mereka yang besar pada keseimbangan eksternal.
Abdul-Hamid Al-Bilali
Tapi yang mengherankan, sebagian besar manusia membuat dinding pemisah antara keseimbangan eksternal denagn keseimbangan intenal. Oleh karena itu, Anda tidak melihat mereka menaruh perhatian pada keseimbangan internal. Anda melihat bahwa mereka mengalami kekacauan internal, kontradiksi yang aneh antara perbuatan dengan perkataan, dan antara sebaguan perbuatan dengan sebagian lainnya, antara sebagian perkataan dengan sebagian laiinya.
Termasuk dalam kategori kontradiksi dan tidak adanya keseimbangan tersebut wadalah giatnya sebagian orang mengerjakan salat tepat pada waktunya, tapi masih enggan meninggalkan gibah (membicarakan keburukan) dan mencemarkan nama baik orang lain. Dan giatnya sebagian orang berdakwah di jalan Allah tapi tidak mau bangun untuk mengerjakan sholat subuh atau sholat asar.
Termasuk dalam kintradiksi itu juga adalah, ada sebagian orang yang gemar menyuruh orang lain supaya beramal baik tepi dia senndiri tidak mau mengerjakannya; sibuk memberi petuah dan nasihat kepada orang lain, tapi dirinya sendiri sangat alergi terhadap nasihat; memelihara jenggot dan memendekkan pakaian tapi disertai dengan masih adanya buruk sangka dan tidak konsisten pada suatu pendapat.
Semua ini merupakan sebagian indikasi hilangnya keseimbangan internal yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, karena perhatian mereka yang besar pada keseimbangan eksternal.
Abdul-Hamid Al-Bilali
K E M B A L I
Banyak yang terjadi saat kita mengadakan perjalanan ke negeri lain dan bertempat tinggal di rumah sewaan, aib-aib kita tampak bermunculan di tempat tinggal itu, dan bisa jadi kita tidak menemukan orang-orang yang dapat memperbaiki aib-aib itu, tidak pula mendapatkan tempat tinggal yang lainnya. Maka diantara kita ada yang berkata sambil menenangkan, “ Itu tidak lain hanyalah hari-hari yang sangat berlalu, kemudian kita kembali lagi ke negeri sendiri,” seraya mendoakan kita agar tabah dalam menghadapi kekurangan-kekurangan yang tidak tedapat di tempat tinggal kita-di negeri kita sendiri.
Bukankah ini yang harus kita ingat selama kita masih di muka bumi ini?! Atau yang membuat kita tabah terhadap musibah dan bencana yang menimpa kita; senantiasa ingat bahwa tempat ini hanyalah sementara. Sesungguhnya kita semua akan kembali kepada Allah. Di sanalah tempat yang hakiki lagi kekal. Itulah negeri yang di dalamnya tidak terdapat kekurangan bagi orang yang berbuat kebaikan di negeri yang fana ini, dunia.
Abdul-Hamid Al-Bilali
Bukankah ini yang harus kita ingat selama kita masih di muka bumi ini?! Atau yang membuat kita tabah terhadap musibah dan bencana yang menimpa kita; senantiasa ingat bahwa tempat ini hanyalah sementara. Sesungguhnya kita semua akan kembali kepada Allah. Di sanalah tempat yang hakiki lagi kekal. Itulah negeri yang di dalamnya tidak terdapat kekurangan bagi orang yang berbuat kebaikan di negeri yang fana ini, dunia.
Abdul-Hamid Al-Bilali
PELIPUR SAAT DUKA MELANDA
Tidak ada seorang manusia pun di alam dunia ini melainkan dia mendapatkan cobaan, khususnya orang-orang yang beriman, sesuai dengan apa yang di sebutkan Allah SWT. Dalam QS Al-Ankabt [29]:1-3, “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Orang yang tidak beriman akan sangat panik menghadapi cobaan. Mereka juga hidup dalam kegelisahan, keguncangan jiwa, dan selalu gundah disebabkan oleh cobaan itu. Oleh karena itu, mereka terpaksa mengkonsumsi berbagai macam obat penenang, berkonsultasi di klinik psikologi, melibatkan diri dalam dunia arak dan wanita, untuk membuat diri mereka terlena dalam musibah yang menimpa mereka. Mereka berharap dapat menghidar sedikit dari kenyataan hidupnya yang pahit itu.
Tetapi orang yang beriman mempunyai sesuatu yang dapat melipur dirinya, hingga dapat mengalihkan cobaan itu menjadi kegembiraan, hitam putih, keguncangan menjadi kebahagiaan. Pelipur orang beriman yang pertama dan paling utama saat tertimpa cobaan itu adalah, dia merasakan dirinya sebagai hamba Tuhan, dan Dia yang akan melindunginya. Seorang budak tidak berwenang menghalang-halangi keinginan tuannya untuk melakukan sesuatu. Jika ini yang diinginkan dari penciptanya dari keadaan tidak ada, maka tidak ada penentangan bagi alat yang tidak memiliki daya dan kekuatan terhadap yang membuatnya. Dia akan berkata, “Allah telah menakdirkan, dan apa yang dikehandaki-Nya pasti terlaksana.”
Pelipur yang kedua adalah, dia merasa Allah SWT. Lebih tahu daripada dia tentang apa saja yang dapat membuatnya bahagia dan apa saja yang bermanfaat baginya. Jika Allah telah menakdirkan sesuatu , maka tidak diragukan lagi bahwa sesuatu itu demi kemaslahatannya, walaupun tampak pada lahirnya tidak demikian. Oleh karena itu, dia menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Dan tidak menentang apa yang telah ditakdirkan baginya, sebab dia tidak tahu yang gaib.
Pelipur yang ketiga adalah, dia merasa dirinya akan mendapatkan pahala atas cobaan yang sedang menipanya, dan itu merupakan pintu penghapusan dosa-dosa serta merupakan bentuk kasih sayang dari Allah SWT. Untuk meringankan dosa kita yang banyak dengan berbagai cobaan ini.
Pelipur keempat adalah, dia ingat masih ada orang yang lebih berat cobaannya darinya, dan yang menimpa itu tidak sebanding beratnya dengan apa yang menimpa orang lain.
Pelipur kelima adalah, dia ingat barangkali cobaan yang menimpanya itu lantaran dosa yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu, ini akan mendorongnya supaya banyak memohon ampunan dan semakin peka terhadap amal perbuatannya, yaitu menyucikan dirinya dari cela-cela keburukan yang merasukiya.
Pelipur keenam adalah, dia ingat cobaan yang menimpa itu sesuai dengan kadar keimanan. Orang yang paling teguh imannya, dialah yang paling banyak menerima cobaan. Bisa jadi apa yang menimpanya itu merupakan suatu bentuk kabar gembira tentang bersemayamnya keimanan di dalam hatinya.
Pelipur yang ketujuh adalah, dia meyakini bahwa penentangannya, kegelisahannya, kepanikannya, dan pengaduannya kepada orang lain itu sama sekali tidak akan mengubah apa yang menimpa dirinya jika memang Allah SWT. Tidak menghendaki untuk mengubah dan melenyapkannya.
Semua ini merupakan sebagian dari hal-hal yang dapat melipur diri orang yang beriman saat menghadapi cobaan, yaitu untuk mengalihan rasa sakit menjadi sehat, kepanikan menjadi kebahagiaan, kegembiraan dan optimisme.
RENUNGAN EMBUN PAGI- Abdul-Hamid Al-Bilali
Orang yang tidak beriman akan sangat panik menghadapi cobaan. Mereka juga hidup dalam kegelisahan, keguncangan jiwa, dan selalu gundah disebabkan oleh cobaan itu. Oleh karena itu, mereka terpaksa mengkonsumsi berbagai macam obat penenang, berkonsultasi di klinik psikologi, melibatkan diri dalam dunia arak dan wanita, untuk membuat diri mereka terlena dalam musibah yang menimpa mereka. Mereka berharap dapat menghidar sedikit dari kenyataan hidupnya yang pahit itu.
Tetapi orang yang beriman mempunyai sesuatu yang dapat melipur dirinya, hingga dapat mengalihkan cobaan itu menjadi kegembiraan, hitam putih, keguncangan menjadi kebahagiaan. Pelipur orang beriman yang pertama dan paling utama saat tertimpa cobaan itu adalah, dia merasakan dirinya sebagai hamba Tuhan, dan Dia yang akan melindunginya. Seorang budak tidak berwenang menghalang-halangi keinginan tuannya untuk melakukan sesuatu. Jika ini yang diinginkan dari penciptanya dari keadaan tidak ada, maka tidak ada penentangan bagi alat yang tidak memiliki daya dan kekuatan terhadap yang membuatnya. Dia akan berkata, “Allah telah menakdirkan, dan apa yang dikehandaki-Nya pasti terlaksana.”
Pelipur yang kedua adalah, dia merasa Allah SWT. Lebih tahu daripada dia tentang apa saja yang dapat membuatnya bahagia dan apa saja yang bermanfaat baginya. Jika Allah telah menakdirkan sesuatu , maka tidak diragukan lagi bahwa sesuatu itu demi kemaslahatannya, walaupun tampak pada lahirnya tidak demikian. Oleh karena itu, dia menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Dan tidak menentang apa yang telah ditakdirkan baginya, sebab dia tidak tahu yang gaib.
Pelipur yang ketiga adalah, dia merasa dirinya akan mendapatkan pahala atas cobaan yang sedang menipanya, dan itu merupakan pintu penghapusan dosa-dosa serta merupakan bentuk kasih sayang dari Allah SWT. Untuk meringankan dosa kita yang banyak dengan berbagai cobaan ini.
Pelipur keempat adalah, dia ingat masih ada orang yang lebih berat cobaannya darinya, dan yang menimpa itu tidak sebanding beratnya dengan apa yang menimpa orang lain.
Pelipur kelima adalah, dia ingat barangkali cobaan yang menimpanya itu lantaran dosa yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu, ini akan mendorongnya supaya banyak memohon ampunan dan semakin peka terhadap amal perbuatannya, yaitu menyucikan dirinya dari cela-cela keburukan yang merasukiya.
Pelipur keenam adalah, dia ingat cobaan yang menimpa itu sesuai dengan kadar keimanan. Orang yang paling teguh imannya, dialah yang paling banyak menerima cobaan. Bisa jadi apa yang menimpanya itu merupakan suatu bentuk kabar gembira tentang bersemayamnya keimanan di dalam hatinya.
Pelipur yang ketujuh adalah, dia meyakini bahwa penentangannya, kegelisahannya, kepanikannya, dan pengaduannya kepada orang lain itu sama sekali tidak akan mengubah apa yang menimpa dirinya jika memang Allah SWT. Tidak menghendaki untuk mengubah dan melenyapkannya.
Semua ini merupakan sebagian dari hal-hal yang dapat melipur diri orang yang beriman saat menghadapi cobaan, yaitu untuk mengalihan rasa sakit menjadi sehat, kepanikan menjadi kebahagiaan, kegembiraan dan optimisme.
RENUNGAN EMBUN PAGI- Abdul-Hamid Al-Bilali
PELIPUR SAAT DUKA MELANDA
Tidak ada seorang manusia pun di alam dunia ini melainkan dia mendapatkan cobaan, khususnya orang-orang yang beriman, sesuai dengan apa yang di sebutkan Allah SWT. Dalam QS Al-Ankabt [29]:1-3, “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Orang yang tidak beriman akan sangat panik menghadapi cobaan. Mereka juga hidup dalam kegelisahan, keguncangan jiwa, dan selalu gundah disebabkan oleh cobaan itu. Oleh karena itu, mereka terpaksa mengkonsumsi berbagai macam obat penenang, berkonsultasi di klinik psikologi, melibatkan diri dalam dunia arak dan wanita, untuk membuat diri mereka terlena dalam musibah yang menimpa mereka. Mereka berharap dapat menghidar sedikit dari kenyataan hidupnya yang pahit itu.
Tetapi orang yang beriman mempunyai sesuatu yang dapat melipur dirinya, hingga dapat mengalihkan cobaan itu menjadi kegembiraan, hitam putih, keguncangan menjadi kebahagiaan. Pelipur orang beriman yang pertama dan paling utama saat tertimpa cobaan itu adalah, dia merasakan dirinya sebagai hamba Tuhan, dan Dia yang akan melindunginya. Seorang budak tidak berwenang menghalang-halangi keinginan tuannya untuk melakukan sesuatu. Jika ini yang diinginkan dari penciptanya dari keadaan tidak ada, maka tidak ada penentangan bagi alat yang tidak memiliki daya dan kekuatan terhadap yang membuatnya. Dia akan berkata, “Allah telah menakdirkan, dan apa yang dikehandaki-Nya pasti terlaksana.”
Pelipur yang kedua adalah, dia merasa Allah SWT. Lebih tahu daripada dia tentang apa saja yang dapat membuatnya bahagia dan apa saja yang bermanfaat baginya. Jika Allah telah menakdirkan sesuatu , maka tidak diragukan lagi bahwa sesuatu itu demi kemaslahatannya, walaupun tampak pada lahirnya tidak demikian. Oleh karena itu, dia menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Dan tidak menentang apa yang telah ditakdirkan baginya, sebab dia tidak tahu yang gaib.
Pelipur yang ketiga adalah, dia merasa dirinya akan mendapatkan pahala atas cobaan yang sedang menipanya, dan itu merupakan pintu penghapusan dosa-dosa serta merupakan bentuk kasih sayang dari Allah SWT. Untuk meringankan dosa kita yang banyak dengan berbagai cobaan ini.
Pelipur keempat adalah, dia ingat masih ada orang yang lebih berat cobaannya darinya, dan yang menimpa itu tidak sebanding beratnya dengan apa yang menimpa orang lain.
Pelipur kelima adalah, dia ingat barangkali cobaan yang menimpanya itu lantaran dosa yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu, ini akan mendorongnya supaya banyak memohon ampunan dan semakin peka terhadap amal perbuatannya, yaitu menyucikan dirinya dari cela-cela keburukan yang merasukiya.
Pelipur keenam adalah, dia ingat cobaan yang menimpa itu sesuai dengan kadar keimanan. Orang yang paling teguh imannya, dialah yang paling banyak menerima cobaan. Bisa jadi apa yang menimpanya itu merupakan suatu bentuk kabar gembira tentang bersemayamnya keimanan di dalam hatinya.
Pelipur yang ketujuh adalah, dia meyakini bahwa penentangannya, kegelisahannya, kepanikannya, dan pengaduannya kepada orang lain itu sama sekali tidak akan mengubah apa yang menimpa dirinya jika memang Allah SWT. Tidak menghendaki http://www.blogger.com/img/blank.gifuntuk mengubah dan melenyapkannya.
Semua ini merupakan sebagian dari hal-hal yang dapat melipur diri orang yang beriman saat menghadapi cobaan, yaitu untuk mengalihan rasa sakit menjadi sehat, kepanikan menjadi kebahagiaan, kegembiraan dan optimisme.
RENUNGAN EMBUN PAGI- Abdul-Hamid Al-Bilali
Orang yang tidak beriman akan sangat panik menghadapi cobaan. Mereka juga hidup dalam kegelisahan, keguncangan jiwa, dan selalu gundah disebabkan oleh cobaan itu. Oleh karena itu, mereka terpaksa mengkonsumsi berbagai macam obat penenang, berkonsultasi di klinik psikologi, melibatkan diri dalam dunia arak dan wanita, untuk membuat diri mereka terlena dalam musibah yang menimpa mereka. Mereka berharap dapat menghidar sedikit dari kenyataan hidupnya yang pahit itu.
Tetapi orang yang beriman mempunyai sesuatu yang dapat melipur dirinya, hingga dapat mengalihkan cobaan itu menjadi kegembiraan, hitam putih, keguncangan menjadi kebahagiaan. Pelipur orang beriman yang pertama dan paling utama saat tertimpa cobaan itu adalah, dia merasakan dirinya sebagai hamba Tuhan, dan Dia yang akan melindunginya. Seorang budak tidak berwenang menghalang-halangi keinginan tuannya untuk melakukan sesuatu. Jika ini yang diinginkan dari penciptanya dari keadaan tidak ada, maka tidak ada penentangan bagi alat yang tidak memiliki daya dan kekuatan terhadap yang membuatnya. Dia akan berkata, “Allah telah menakdirkan, dan apa yang dikehandaki-Nya pasti terlaksana.”
Pelipur yang kedua adalah, dia merasa Allah SWT. Lebih tahu daripada dia tentang apa saja yang dapat membuatnya bahagia dan apa saja yang bermanfaat baginya. Jika Allah telah menakdirkan sesuatu , maka tidak diragukan lagi bahwa sesuatu itu demi kemaslahatannya, walaupun tampak pada lahirnya tidak demikian. Oleh karena itu, dia menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Dan tidak menentang apa yang telah ditakdirkan baginya, sebab dia tidak tahu yang gaib.
Pelipur yang ketiga adalah, dia merasa dirinya akan mendapatkan pahala atas cobaan yang sedang menipanya, dan itu merupakan pintu penghapusan dosa-dosa serta merupakan bentuk kasih sayang dari Allah SWT. Untuk meringankan dosa kita yang banyak dengan berbagai cobaan ini.
Pelipur keempat adalah, dia ingat masih ada orang yang lebih berat cobaannya darinya, dan yang menimpa itu tidak sebanding beratnya dengan apa yang menimpa orang lain.
Pelipur kelima adalah, dia ingat barangkali cobaan yang menimpanya itu lantaran dosa yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu, ini akan mendorongnya supaya banyak memohon ampunan dan semakin peka terhadap amal perbuatannya, yaitu menyucikan dirinya dari cela-cela keburukan yang merasukiya.
Pelipur keenam adalah, dia ingat cobaan yang menimpa itu sesuai dengan kadar keimanan. Orang yang paling teguh imannya, dialah yang paling banyak menerima cobaan. Bisa jadi apa yang menimpanya itu merupakan suatu bentuk kabar gembira tentang bersemayamnya keimanan di dalam hatinya.
Pelipur yang ketujuh adalah, dia meyakini bahwa penentangannya, kegelisahannya, kepanikannya, dan pengaduannya kepada orang lain itu sama sekali tidak akan mengubah apa yang menimpa dirinya jika memang Allah SWT. Tidak menghendaki http://www.blogger.com/img/blank.gifuntuk mengubah dan melenyapkannya.
Semua ini merupakan sebagian dari hal-hal yang dapat melipur diri orang yang beriman saat menghadapi cobaan, yaitu untuk mengalihan rasa sakit menjadi sehat, kepanikan menjadi kebahagiaan, kegembiraan dan optimisme.
RENUNGAN EMBUN PAGI- Abdul-Hamid Al-Bilali
Langganan:
Postingan (Atom)