Sabtu, 03 November 2012

Ini Nikmat ataukah Cobaan ?



M  i  s  s  b  a  k  h    K  h  a  s  h  a  n  y

Nggak usah ngayal deh lu Gus !” tegas Andre temanku, saat mencari rongsokan.
Namaku Agus. Seharusnya aku sudah SMA, mungkin kelas dua-an. Tapi sekarang aku tidak bersekolah. Aku hanya 4 tahun makan bangku pendidikan. Dikarenakan orang tuaku sudah tidak sanggup lagi membiayaiku untuk bersekolah
Kehidupanku di atas gerobak kayu butut, roda dua, yang lama-kelamaan di makan rayap membuatku menjadi sedikit lebih dewasa untuk menghadapi kehidupan ini. Benar, rumahku adalah sebuah gerobak. Aku tinggal bersama Ibu dan dua adikku. Kedua adikku juga putus sekolah.

Kadangkala Aku dan keluargaku tidur di bawah jembatan, di emperan toko, di dalam pasar, pernah juga di pos ronda yang sudah ditinggalkan.  Aku ingin merubah nasibku dan nasib ibu serta adik-adikku. Tapi bagaimana ? benar-benar Jakarta kejam terhadap kita.
Setiap hari Ibu memintaku untuk bersabar atas semua yang terjadi. Entah apa yang difikirkannya. Aku sudah bosan dengan semua ini.
Aku fikir untuk merubah nasib di kota sekejam ini sangatlah berat. Ya sangat berat sekali. Bayangkan untuk makan sehari-hari saja kita semua harus berpencar untuk memperoleh sampah yang natinya akan dikilokan. Itupun kalau dapat, tak jarang aku dan keluargaku harus merelakan cacing-cacing konser di dalam perut kita.
Untuk itu saja aku sudah tak mampu, apalagi untuk merubah nasib ? Ah, jangan mimpi deh.
*   *   *
            Pagi ini, seperti biasanya. Aku dengan Rama, adik pertamaku bersiap-siap mengais sampah di depan kantor perpajakan dan ibu bersama Mila, si bungsu di bantaran kali ciliwung sambil sesekali memancing ikan gabus untuk makan malam kita.
            Sebelum berangkat, Aku dan Rama bersalaman dan menciumi ibu. Entah kenapa tidak biasanya aku ikut-ikutan bersalaman, tapi kali ini aku melakukannya. Seperti ada magnet yang menarikku untuk melakukannya.
Assalamualaikum.” Kata si Rama berpamitan.
            Waalaikum salam.” Ibu menjawabnya.
Dengan segera aku mengambil karung dan peralatan yang lain. Kudengar Rama teriak-teriak berebutan peralatan dengan Mila. Maklumlah usia mereka tidak terpaut jauh. Mungkin hanya 2 tahunan.
“Aduh, burung-burungku berkicau lagi . . lumayanlah buat nyegerin pikiran.” Ucapku menyindir mereka.
*   *   *
            Di depan kantor perpajakan, Aku mengambili dan memilah barang-barang rongsokan yang bisa dibawa. Aku tak tau Rama mencari rongsokan di mana.
            “Nanti juga pulang-pulang sendiri.” Pikirku.
            Ku nikmati setiap hembusan angin yang melewati tubuhku. Sampai membawa diriku ke dalam sebuah lamunan hebat.
            Duhai, betapa indahnya surga, tetapi betapa tak cukup ilmu yang kupunya untuk mengantarku ke sana ! Aku hanyalah pencari rongsokan dengan telapak tangan yang keras dan melepuh, bermandikan keringat di siang hari, dan kelelahan di malam hari. Sudah sekian lama aku kehilangan semuanya. Hingga siang dan malamku terasa hambar dan hampa. Duh, seandainya tawaran Pak Jazuli untuk aku agar melanjutkan sekolah gratis aku turuti. Pasti sekarang aku sudah bisa melawan keganasan kota ini.”
            “Tapi apadaya, Aku hanyalah ranting kering dari kayu yang sudah lapuk, menunggu hembusan angin, lalu patah dan jatuh di atas batu dan hancur berkeping-keping. Mungkin pula aku hanyalah seumpama elang, membumbung tinggi terbang, lalu petir menghancurkan sayap-sayapku. Hidupku laksana berhenti di masa lalu, tanpa arah dan tujuan, sedang jiwaku semakin melemah di hari ini, dan tak sanggup aku membayangkan masih adakah kesempatan kepada diriku untuk membahagiakan keluargaku.”
Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Menyadarkanku dari lamunan singkat ini.
“Hei, pemuda.” Ucap seseorang yang mengagetkanku itu. Dia bertubuh besar, tegap, gagah, berkulit sawo matang, dan tidak tampak seperti preman.
            “Eh, iya Pak .. ” aku mendadak menjadi malu.
            “Rumahmu di mana ?” Tanyanya.
            “Di gerobak Pak, pindah-pindah.” Jawabku jujur.
            “Di gerobak pindah-pindah gimana ?” Dengan sangat penasaran bapak itu menanyakan.
            Aku menceritakan semuanya.
*   *   *
            Awan menangis di siang gelap ini. Perbincanganku dengan lelaki itu berlanjut di sebuah warung kopi di daerah Simpang Lima. Sepertinya, aku semakin akrab dengan beliau. Beliau pun semakin tahu keadaanku, kehidupan miskinku, dan cita-citaku.
Hingga sebuah tawaran mengejutkan terlontar dari mulutnya.
Sebuah tawaran yang tentu akan diminati banyak orang. Yaitu sebuah pekerjaan yang di sana aku hanya duduk sebagai narasumber, tepatnya di sebuah workshop atau pelatihan. Banyak orang yang menginginkan pekerjaan seperti itu, tetapi sangat sulit untuk melaksanakannya. Aku tahu hal itu. Beliau memberiku alamat rumahnya untuk memastikan kesungguhanku.
Dan aku menyetujuinya.
*   *   *
Seketika itu pula, tangisan awan semakin menjadi-jadi. Aku teringat dengan ibu dan adik-adikku. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka. Aku tak peduli. Aku tetap menerjang.
Pertama kali, aku bertemu dengan Rama yang tak berada jauh dengan tempatku. Aku lihat Rama menggigil kedinginan. Tapi itu sudah biasa.
“Dek, kakak dapet kerjaan.” Ucapku bahagia
“Beneran Kak ?” Wajah Rama bersemangat.
“Iya, asli .. Kakak ditawari kerjaan sama bapak-bapak yang di warung tadi, kamu lihat kan ?”
“Iya iya .. Kak, bukan sebaiknya kita beri tahu ibu dan Mila dahulu ?”
“Seperti yang aku fikirkan, Let’s go !”
Sepertinya aku dan Rama sudah tidak dapat membendung kegembiraan lagi.
*   *   *
            Apa yang terjadi ?
            Aku dan Rama tidak menemukan Ibu dan si bugsu, Mila. Aku dan Rama mencari mereka di tempat-tempat yang biasa kami tempati istirahat. Di kolong jembatan, di emperan toko emas, di pos ronda. Tapi apadaya aku dan Rama tetap tidak menemukan mereka.
Awalnya kami biasa-biasa saja. Sudah biasa ibu dan Mila menghilang seperti itu. Namun, lama-kelamaan kita cari tetap tidak ada hasil. Sampai akhirnya kita teringat kalu ibu dan Mila ada di sungai Ciliwung utuk mengambil sampah dan memancing ikan. Tetapi apa yang kita dapatkan, hanya tempat itu sudah dipenuhi dengan air bah cokelat pekat. Mungkin karena hujan deras siang tadi.
Aku dan Rama terus mencari Ibu dan Mila di sekitar sungai. Tetapi apa, kita dapati gerobak usang kita yang tengkurap tertimpa pohon di sekitar Ciliwung. Kejadian itu membuat kita sangat panik. Tetapi aku mencoba menyembunyikan kepanikan itu dari adikku, Rama.
            “Kak ..” Desah Rama, dengan mata yang berkaca-kaca.
            “Iya, sabar dulu ya. kita cari sama-sama.” Jawabku seolah-olah mengerti apa yang difikirkan Rama.
            “Bagaimana kalau tidak ketemu Kak ?”
            “Hus, jangan berfikiran yang tidak-tidak dulu.”
            Sepertinya Rama sudah tidak dapat membendung air bah yang ada di matanya sendiri.
*   *   *
            Sementara aku meminta bantuan bapak-bapak yang berada di sekitar lokasi sungai Ciliwung untuk menemukan Ibuku dan adik bungsuku. Dengan menggunakan gerobak kita yang ditemukan terlebih dahulu. Aku dan wargapun memulai pencarian.
            “Ibu ..” Teriakku.
            “Ibu ..” Diikuti bapak-bapak yang lain.
            “Mila ..”
            “Mila ..”
            Sampai pada malam hari. Aku, Rama, dan warga sekitar mencari ibu dan Mila. Tetapi tetap tak ada hasil. Aku semakin takut dengan keadaan ini.
            Aku tidak sanggup kalau seandainya ibu meninggalkanku. Setelah ayahku, tongkat jiwaku, yang telah lama dipanggil-Nya. Hampir satu tahun ayah tegolek di atas pembaringan. Tubuhnya kurus, mengurus, wajahnya pucat pasi. Sudah berkali-kali ayah di bawa ke mantri, tetapi sakitnya tak kunjung sembuh. Semuanya sudah terjual demi mengobati ayah. Berbagai jenis obat-tradisional maupun herbal-telah kami cari demi kesembuhan ayah. Kami orang miskin, tetapi Allah tetap menguji kehidupan kami.
            Aku benar-benar tidak sanggup kalau seandainya ibu meninggalkanku juga. Aku harus merawat kedua adikku sendirian, dengan segala keterbatasanku ini. Itu tidak mungkin. Belum juga aku mengabarkan kegembiraan yang baru aku dapat hari ini, sudah-sudah ibu telah meninggalkanku.
            Semoga tidak terjadi.
*   *   *
Setelah  berhari-hari. Adikku, Rama aku titipkan di tenda darurat. Dan berhari-hari pula aku mecari ibu dan Mila dengan dibantu oleh semua warga. Sampai air bah itu sedikit demi sedikit menjadi menyurut. Tapi tetap tidak membuahkan hasil.
*   *  *
“Mas .. mas .. “ Teriak salah seorang warga kepadaku.
“Kenapa Pak, cepat katakan kalau bapak menemukan ibu dan adekku pak ..” Paksaku.
“Iya Mas, iya. Ibu sampean ada di tenda .. Ayo mas aku antarkan ke sana .. ” Jelasnya berlogat Jawa dengan agak tergesa-gesa.
“Kalau adekku Pak ?” Tanyaku sekali lagi. Tetapi tak sempat menjawabnya, dengan segera bapak itu menyeretku ke tenda.
*   *   *
Sorot mataku langsung tertuju pada sebuah ranjang yang di atasnya terdapat seorang manusia entah siapa, dengan sekujur tubuhnya tertutup oleh selembar kain putih bersih.
Aku buka kain yang menutupi wajahnya dengan perlahan, dan aku menelusuri setiap bagian dan lekukan dari wajahnya untuk memastikan kalau itu bukan ibu atau adikku. Dan ternyata takdir berkata lain. Itu adalah ibuku. Ibuku telah tiada, dan Mila masih belum juga ditemukan.
“Dalam menapaki perjalanan hidup, adakalanya kita seolah dipaksa berlari dan dihadapkan pada permasalahan rumit yang tak mungkin dipecahkan. Hingga pada terendah, kita benar-benar merasa tak ada harapan sedikitpun. Namun, sadarlah bahwa saat-saat menyakitkan penuh penderitaan dan air mata tersebut adalah salah satu cara Tuhan membetuk kita menjadi sosok yang kuat.” Seorang perempuan membisikiku dari belakang.
Aku tak memperhatikannya. Sekarang aku hanya bisa memeluk Rama satu-satunya keluargaku yang masih tersisa dan menangis tersedu-sedu melihat ibuku, ibu kandungku, yang sangat aku cintai telah menghembuskan nafas terakhirnya dan terbujur kaku di pembaringan tenda darurat ini.
“Seperti halnya cangkir. Di mana dahulu dia hanya berupa seonggok tanah liat yang tak berguna. Setelah menjalani tempaan dan menahan sakit di sekujur tubuhnya, akhirnya dia berhasil mengubah wujudnya menjadi sebuah cangkir yang indah.” Perempuan itu melanjutkannya.
*   *   *
“Bu, sekarang Kakak sudah mendapat pekerjaan yang insyaallah sangat baik. Kakak akan menjadi menjadi orang yang bicara di acara wawancara. Kakak akan tampil di JABODETABEK selama 9 bulan berturut-turut Bu.” Rama menjelaskan sesuatu yang aku sebut kegembiraan yang tertunda itu, kepada mayat ibuku. Tampaknya Rama sudah tidak ingin menangisi kepergian ibuku.
“Kak, Rama percaya apa yang kakak kerjakan pasti ibu merestui kok. Ibu senang kalau anak-anak ibu senang. Asalakan itu sejalan dengan agama. Gitu kan kata ibu dulu. Sekarang, tugas kita adalah berusaha dan berdoa agar Mila cepat ditemukan dan kehidupan kita menjadi baik.” Rama mengusap air mataku dan juga berusaha menghiburku.
*   *   *
            Sebulan ini aku telah bekerja.
Dan karena musibah air bah yang telah menenggelamkan semuanya, sampai sekarang, adikku Mila belum juga ditemukan.
Tak henti-hentinya aku dan Rama mengirimkan doa kepadanya agar dia masih diberi kesempatan untuk hidup dan kita bisa bertemu dengannya kembali kelak. Dan tak lupa juga aku dan Rama selalu mengirimkan doa kepada kedua orang tua kita, belahan jiwa kita, agar mereka di akhirat diberi Allah SWT tempat yang benar-benar baik.
*   *   *
            Sungguh, betapa aku tenggelam dalam rasa terima kasih yang luar biasa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang aku sudah bisa menyekolahkan Rama kembali. Dan kami juga sudah tidak nomaden lagi. Aku menyewa sebuah kontrakan yang tidak cukup luas untuk kita berdua, aku dan adikku, Rama.


TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar